Minggu, 13 Juni 2010

HATI TAK BERKASIH
Aku hampir saja terjatuh dari tangga beranak pinak lantai dua asramaku saat kakiku mencoba menggagahinya. Mataku memang masih rabun-rabun dari kantuk yang mendera. Semalam aku terlambat tidur mengerjakan tugas akuntansi pagi nanti, aku memang tergolong lambat loading dalam menangkap pelajaran, tapi urusan kerja tugas tak boleh ketinggalan. Aku harus berusaha menyelesaikan tugas seberat apapun, hasil bukanlah prioritas utama dalam penilaian, tapi proseslah yang harus diberi penghargaan. Prinsip inilah yang memotivasiku untuk tidak putus asa dalam segala hal, sebab Allah hanya menilai proses bukan hasil.
Dengan mata terkantuk aku memaksakan diri bangun, tekadku bangun tahajjud tidak membuatku surut sedikit pun.
“Aku harus bangun sepertiga malam” Niatku sebelum terlelap semalam
Kucoba memperbaiki perasaan setengah sadarku, lalu ku raih gagang tangga berjalan menuruninya sambil duduk, aku kayak suster ngesot saja. Aku tak bisa berdiri, tubuhku oleng, keseimbangan tubuhku tak mampu ku kendalikan.
Setelah sampai di anak tangga terakhir, ku coba meraih tembok sambil memejamkan mataku yang berkunang-kunang. Aku mulai melangkah sambil melantunkan doa.
“Ya.. Allah, perkenankan aku untuk bisa sujud malam ini di hadapan-Mu, beri aku kekuatan fisik dan ruh untuk tetap pada niat tahhajjudku”
“Amin!”
Aku tersentak kaget ketika mendengar suara aneh, doaku diaminkan oleh seseorang, entah dari mana sumber suara itu. Rasa kantukku hilang seketika entah karena faktor takut atau doaku yang terkabul, ketahanan tubuhku juga mulai stabil. Tanpa ragu sedikitpun aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu aku berdiri tahajjud.


***********************
“Allahu Akbar, Allahu Akbar”
Lantunan adzan membangunkanku dari mimpi indah, suara azan subuh menggema menggetarkan jagad mengetuk pintu-pintu rumah masyarakat yang tinggal di sekitar masjid itu. Hanya telinga tuli dari kebenaran yang tak mendengar suara itu, mulut-mulut bisu dari berkata baik tak menyahut juga, demikian mata-mata buta dari cahaya ilahi tak menghadiri seruan indah itu.
Aku biasa berpikir dalam kesendirian, kurang apa lagi manusia sehingga tidak mau menyembah Allah? fisik yang kuat, harta melimpah, kehidupan yang damai. Segalanya telah Allah berikan kepadanya, tapi kenapa masih saja ada segolongan manusia yang tak punya rasa syukur akan nikmat-nikmat itu?
Setelah mengenakan pakaian sholat, ku bangunkan teman-teman seasramaku tuk sholat, terkadang aku mendapat respon baik dari mereka kadang pula respon buruk. Di asrama ini aku mendapati tipe manusia yang beragam, ini adalah pelajaran berharga sebelum terjung ke masyarakat, pemarah, penakut, pemberani, sombong, pemurah, kikir, egois, dan segala karakter telah ku pelajari semua.
Rakaat terakhir yang diakhiri salam, aku sibuk berzikir dan berdoa setelah sholat, karena doa adalah senjata, begitu menurut buku yang ku baca, di dalamnya terkandung hikmah,. Doa adalah ketundukan, penyerhan diri padaNya, sehingga orang yang tidak berdoa dikatakan sombong karena merasa bisa pada segala hal, ia tidak butuh penolong dan pembimbing, jauhilah sifat ini.
“Hei….. coba lihat, ada anak sedang tidur di teras masjid” teriak seorang jamaah masjid
Penghuni masjid berhamburan dari zikir, ada juga yang cuek dan sibuk berdoa. Aku melangkah keluar setelah ku dengar kata-kata kurang sedap diucapakan salah satu jamaah.
“Di manako tinggal?” Tanya pak syamsul, salah satu jamaah masjid Al-Muhajirin dengan logat makassarnya
“Di sana pak” Jawab sang anak dengan mata yang masih ngantuk sambil menunjuk ke arah barat
“Masih ada kah bapakmu?” Tanya yang lain
“Iye, Tinggal bapakku, mamaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu” cerita sang anak dengan kepala tertunduk diiringi air mata
“Na usirko bapakmu, kenapa tidur di teras masjid ini?”
Sang anak tidak menyahut lagi, kutatapi dalam-dalam tubuhnya, rasa iba mulai muncul dalam hatiku mendengar penuturannya tadi. Kasihan anak seumur dia harus terlantar hidupnya. Di mana perasaan sang bapak, tidak ada perhatian pada anaknya bahkan tega menelantarkannya.
“Usirmi saja, lihatmi itu pakaiannya yang kumal, rambut pirang, telinga beranting. Itu menandakan dia itu preman” Kata pak Arif lantang
Sang anak hanya mengedipkan mata kantuknya, sebenarnya aku merasa kasihan dengan keadaanya yang terlantar seperti itu, tapi penampilannya yang membuatku kehilangan belas kasih.
“Kenapa na begitu gayamu kah?” Tanya pak Tamrin logat ala Makassar
“Usirmi deh pak, anak nakal ini!” Sahut jamaah yang lain
“Iyo, pulangmako ku siramko air itu!” tegas pak Arif
“Eh, tunggu dulu, bapak ini tak punya hati. Seharusnya kita mengasihinya bukan memperlakukannya seperti itu” Suaraku lantang membela
“Abdi, untuk apa kamu bela-belain anak itu, tidakkah kamu lihat penampilan ala premannya itu?” Tegas pak Arif padaku
“Aku tahu itu pak, tapi apakah anda bisa mengukur hatinya, bisa saja penampilannya begitu, tapi hatinya baik” kataku polos
Walaupun aku membela sekuat tenaga, tapi anak itu diusir juga, tak satupun jamaah masjid yang memberikan kesempatan pada anak tersebut untuk tinggal di masjid itu. Mereka tidak punya rasa belas kasih pada anak itu.
“Coba bagusji penampilannya, kita baik ji juga sama dia, tapi gayanya kayak preman. Jangan sampai kurang ajar ji kalau dispanggil ke rumah” Kata pak Tamrin setelah anak itu berlalu pergi


****************************
Subuh di hari ke dua pengusiran anak itu, aku mencarinya ke arah yang ditunjuknya waktu ditanya. Informasi tempat tinggal dan identitasnya juga ku dapatkan dari teman-temannya. Aku sungguh iba padanya, pikiranku selalu tertuju pada dia.
Menurut temannya, Adi, anak itu sangat meprihatinkan hidupnya, berawal dari kematian sang karena siksaan dari ayahnya, ia tidak pernah lagi ,mersakan kasih sayang orang tua. Beberapa bulan setelah kematian ibunya, ayahnya menikah lagi dengan wanita cinta pertamanya, maka bertambahlah penderitaan Rafli, nama anak itu. Ia menafkahi hidupnya sendiri dengan mengais sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Antang. Pendidikan hanya dirasakan pada kelas 2 SD, setelah itu putus total.
“ Allah, di mana hati ayahnya” Hatiku miris
Aku sangat bertekad menemukan anak itu setelah mendengar penjelasan Adi, mudah-mudahan aku bisa membantunya mengurangi penderitaannya.
Lorong-lorong sepi kompleks pemulung sampah itu terus ku telusuri, suara raungan anjing tak menyurutkan niatku mencari anak tersebut. Pagi memang masih gelap cuaca pagi itu masih segar belum terkontaminasi polusi kendaraan. Sebuah rumah yang terpisah dari rumah yang lain memaksaku berhenti. Ada suara aneh tiba-tiba saja muncul dari rumah itu.
“Hu……hu…..ha……hua………ha…’ Suara tangisan anak meraung
“Aku sudah bilang, jangan pernah menginjak rumah ini lagi” Seorang laki-laki setengah baya mengamuk
Aku terus perhatikan dari jauh kejadian itu.

****************************
“Ayah, ku mohon jangan usir aku”
Rifqi berteriak memohon pada sang bapak untuk tidak diusir dari rumahnya. Teriakan disertai tangis panjang itu membuatku gundah, rupanya masih ada orang tua yang tega mengusir anaknya di zaman ini. Ingin rasanya ku hajar laki-laki tak belas kasih itu. Darah daging sendiri sendiri diperlakukan seperti binatang, di mana hatinya tersimpan?.
“Hei...pergilah sebelum kami berubah pikiran!” Seorang perempuan menimpali
Perempuan separuh baya itu sepertinya ibu tiri Rifqi, sumber petaka rumah tangga orang lain. Menurut cerita teman-teman Rifqi, sebenarnya rumah tangga keluarga Rifqi sangat bahagia dan harmonis awalnya. Suatu hari, Ayah Rifqi Jatuh hati pada sinta, istri keduanya. Cinta terselubung akhirnya terbongkar dan berimbas pada kematian ibu kandung Rifqi setelah mendapati suaminya selingkuh. Nahas nasib Rifqi, ibu dibunuh sekarang anak diusir pula.
“Ayah, aku lagi sakit” Pelas Rifqi dengan suara lemas
“Ah... pergi sana, aku tak mau lihat mukamu lagi”
“Pak, usir dong!” Kata istrinya
Kesimpulanku benar, wanita itulah yang membuat hancur keluarga Rifqi. Membakar kemarahan suaminya untuk mengusir anak sendiri, kecintaan mendalam pada wanita bisa menjerumuskan seseorang ke jurang keserakahan. Rela berkorban demi memenuhi hasratnya.
“Ayo bcepat pergi”
Tanpa belas kasihan, sang ayah membanting anaknya ke tanah lalu menendanya, ku lihat Rifqi memeluk keras kaki sang ayah seakan memohon belas kasih, tapi harapan sang Rifqi hilang dengan perlakuan ayah yang tak berperikemanusiaan.
Aku terus memperhatikan kejadian pagi buta itu, tak ada lagi suara tangis dan pukulan mungkin Rifqi sudah lari pergi, hanya ayahnya yang sempat ku lihat menutup pintu rumahnya. Aku melangkah pulang dengan perasaan sedih bercampur jengkel.
“Setegah itukah seorang bapak?” Tanyaku dalam hati
Badanku menggigil, gigiku gemeretak, kakiku seakan tak mampu aku angkat dan hampir saja aku terjatuh.
“Tolong....tolong...”
Suara rintihan menghentikan langkahku, ku arahkan badanku ke sumber suara. Dengan mata penuh intai mencari sosok tubuh suara rintihan.
“Masya Allah!” Aku kaget setengah teriak
Ku hampiri Rifqi yang tergetak jauh dari tempat pemukulan ayahnya tadi, rupanya sang ayah melemparnya hinggah sampai sepuluh meter. Darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya, lalu ku buka jaket dan membersihkan darah yang bercucuran itu. Tanpa terasa air mataku sudah mengalir deras membasahi badan Rifqi di pangkuanku.
“Rifqi, kamu baik-baik saja kan”
Senyum sepi mengumbar di bibir berdarahnya, seakan menandakan senyum terakhir yang ia berikan kepadaku. Hatiku miris melihat pemandangan itu, kata perpisahan dari Rifqi menambah keperihanku.
“Sampai jumpa di surga!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar